31.5.10

home sweet home

seperti apa rumah idaman anda?

aku menghabiskan 15 tahun pertama di hidupku tinggal di lt.2 ruko tempoe doeloe orangtuaku.
papaku, dibantu mamaku, menjual bahan bangunan dll lebih dari 10 tahun sebelum aku lahir. seperti halnya aku, kakakku dan adik-adikku juga besar di ruko ini.

ruko kami berlantai 3. lantai 1 adalah lantai di mana hampir setengah ke belakang dipenuhi barang jualan kami. dulunya kami punya ruang tengah, tempat di mana kami bisa menerima tamu, belajar bersama atau merayakan ulang tahun di tengah-tengah tumpukan tripleks and kaleng-kaleng cat. kedengaran lucu, tapi setiap perayaan yang kami rayakan di ruang sempit ini berakhir spektakuler.

lantai 3 adalah ruang jemur merangkap gudang merangkap sauna. pintu tengah menuju ke ruang jemuran yang notabene adalah lantai 5* 3 membagi lantai ini menjadi dua bagian. bagian gudang yang sedari dulu dipenuhi sambungan pipa PVC ini, tinggi ruangnya kurang 10 senti mencapai 1 meter setengah dan tidak pernah menjadi tempat favorit bagi para pekerja, apalagi kalau mereka sudah cukup berkeringat disengat matahari jam 12 siang. ruang sauna pribadi ini cuma dikunjungi kalau mereka benar-benar harus mengambil sesuatu ato bersembunyi dari daftar kerja yang dibagikan di lt 1. pilihan ke 2, tentu saja, adalah kasus yang lebih sering terjadi.

nah lantai 2 adalah lantai di mana kami tinggal. kamar papa mama di bagian ujung belakang dengan jendela besar yang membuka -seandainya dia lebih sering dibuka- ke bukit belakang. di sebelahnya ada ruang persegi 4*4 yang mestinya adalah kamar tamu tapi akhirnya disulap menjadi ruang doa keluarga. lepas dari tangga, ada 3 kamar lagi yang berpetak-petak sampai ke jendela depan. kamarku yang terjepit di tengah, harus kuakui bukan kamar favoritku. letaknya yang terjepit membuat aku seperti merasa selalu kehilangan nafas, merasa harus keluar dari rumah setiap saat. di kemudian hari aku menyadari, perasaan itu datangnya bukan dari hempitan kamarku, tapi dari gelora jiwa mudaku.. tapi di rumah inilah pertama kalinya aku belajar tentang kesederhanaan...

lepas berumur 15 tahun aku dikirim menuntut ilmu di negri Jawi. kata papaku, supaya aku bisa melihat dunia, mengejar prestasi. versi mamaku sih, supaya aku hidupnya bisa jauh dari jangkauan pemuda gondrong berlesung pipi. aku, tentu saja, lebih percaya yang versi mamaku.
anyway, di negri Jawi orangtuaku berinvestasi kecil-kecilan. mereka membeli dan merenovasi sebuah rumah di komplek kecil di pinggiran kota beukuran 10*10, bahkan mungkin lebih ramping. di situ aku dan saudara-saudaraku menghabiskan masa remaja kami. mulai dari bangun pagi jam 5 supaya bisa berangkat ke sekolah jam 5.30 untuk menghindari macet -ta, of course, ini ditujukan untukmu-, belajar naik angkutan umum, bersosialisasi sama tetangga kompleks sampai menghadiri rapat RT.
di rumah ini kami belajar memiliki dan bertanggungjawab, belajar mengerti betapa pentingnya arti keluarga.

genap 22 tahun, aku kembali bermukim di rumah orangtuaku. kali ini bukan lagi di ruko 3 lantai nan terhempit di deretan toko-toko kuno di kota tua. 2 tahun sebelum aku kembali, papaku telah berhasil membangun satu rumah tinggal yang sedianya dia tempati di hari tuanya. jerih payahnya selama bertahun-tahun bekerja dan berhemat dengan tinggal di lt 2 ruko kami membuat dia begitu bangga dengan rumah baru ini. rumah di tengah kota di pinggir jalan raya, dengan taman yang luas di halaman depan dan belakang di mana mama dan papaku bisa menyalurkan hobinya berkebun anggrek. rumah idaman, begitu judulnya. dan memang begitulah adanya. bukan hanya karena rumah ini adalah idealisme yang selama ini diimpikan oleh kedua orangtuaku tapi lebih kepada jalan yang harus dirintis untuk mencapai ke titik ini.
di sini aku belajar, hidup adalah perjuangan.

setahun setelah berpetualang ke negri antah berantah, aku kembali ke negri Jawi. Kali ini orangtuaku telah memetik hasil investasinya. Rumah di tepi kota itu telah dijual ke saudagar dari Barat dan isi rumah kami telah diboyong ke satu rumah di tengah kota. Rumah berwarna hijau segar dengan pintu kayu bercat putih. Indah. tapi di suatu titik aku tau, ini hanya persinggahan.

8 bulan yang lalu, aku akhirnya boyongan ke rumahku sendiri. well, frankly speaking, secara kita masih ngredit, let me say, rumah milik bank X ;) rumah berlantai 2 setengah ukuran 5*16.
yup sodara, aku kembali hidup di sebuah ruko.
terletak di tengah kota, 5 menit dari jalur pintas, 7 menit dari supermarket dan pasar tradisional, 10 menit dari garis pantai.

seidealnya letak rumah ini, sejujurnya ini juga bukan pilihan utamaku. meskipun aku besar dan belajar banyak dari ruko papaku, aku tidak pernah berpikir untuk terjebak kembali di dalamnya. di kepalaku, sebenarnya-hingga saat ini- melayang-layang satu rumah sederhana dengan halaman luas yang cukup lapang sebagai taman bermain anakku, suatu hari nanti.
rumah berlantai 1 setengah dengan kamar 3 dan ruang tengah yang nyaman untuk menikmati waktu senggangku. tidak perlu aneh-aneh dengan hamparan sawah atau kolam renang, yang penting tenang dan sejuk.

toh aku terlanjur terperangkap di ruko ini. ruko pilihan si Naga pasangan hidupku yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada ukiran jawa nan rumit di pintu balkoni. dan karenanya aku juga mulai belajar mencintai tempat ini; merangkai warna dan gambar, menghitung luas ruang dan voltase listrik, melihatnya dengan kacamata tak berbingkai, semuanya indah jika kamu melihatnya dengan hati yang terbuka.

di sini aku belajar mengerti apa artinya bersyukur.

0 comments:

Post a Comment