27.9.10

crazy life in Bali

NOPE! Saya tidak sedang membicarakan kegilaan saya hidup di Bali ataupun keinginan saya untuk ikut-ikutan crazy. Saya sebenarnya sedang ikut bertanya-tanya, apakah memang hidup di Bali ini harus ikutan crazy?

Semua ini berawal ketika saya membaca postingan satu teman yang sudah agak lama tidak bersua. Dia mengeluhkan -atau mungkin mengelukan- cara hidupnya yang tak jelas di Bali. Pindah ke sini tak lama setelah dia menikahi kekasih hatinya dari negri antah berantah, dia memulai satu hidup baru: hidup dengan berpesta. Seluruh malamnya dihabiskan dari satu dungche ke dungche lain, dari satu teman ke teman lain, if you can call them friends.
Sampai dia menemukan tambatan hati lain dan menendang -atau ditendang, entahlan- oleh kekasih hatinya yang telah dipilihnya dengan hati, setahun yang lalu.

Anyway, my main concern about her is only that bagaimana dia melihat semuanya itu adalah akibat pengaruh dari tempat ini, dan bagaimana dia merasa semua ini terjadi karena dia ADA di sini, dan bukan karena dia yang memilih.


***


Saya barusan pindahan ke Bali bulan Agustus 2010. Kalo dihitung secara merata berarti sudah 13 bulan saya inggal di Bali. Dipotong masa liburan saya alias jadwal tak jelas yang mengharuskan saya terbang ke sana kemari at least sekali tiap bulan, yah bisa dibilang saya di sini sekitar 9 bulan lah totalnya. Dalam 9 bulan ini, 3/4nya saya habiskan dalam sebuah kotak, sementara sisanya kalo ga di jalan Oberoi ya di jalan Danau Tamblingan, alias memamahbiak di resto-resto favorit si tiang listrik.

Si Kusno, sodara dari jauh saya yang suatu hari main ke sini bertanya, kenapa saya begitu terbelakangnya; tinggal di Pulau idaman sejuta umat, tapi hidup saya 75 persen saya habiskan dalam sebuah kotak. Dan semakin terheran-heran ketika saya cuma menghabiskan malam minggu saya nan tenang di sofa depan tivi, menonton vcd Friends yang mungkin sudah ketonton sepuluhribu kali.

Pun ketika Utik datang bertandang, kita cuma melewati deretan bangunan dengan lampu warna warni dan musik dungche-dungche yang pekak. Entah karena dia juga sudah mulai bosan atau simply karena cara kita melihat hidup sudah mulai bergeser ke arah lain.
Yang jelas we´re not becoming crazy.


Not then, not now. Not ever.