seperti apa rumah idaman anda?
aku menghabiskan 15 tahun pertama di hidupku tinggal di lt.2 ruko tempoe doeloe orangtuaku.
papaku, dibantu mamaku, menjual bahan bangunan dll lebih dari 10 tahun sebelum aku lahir. seperti halnya aku, kakakku dan adik-adikku juga besar di ruko ini.
ruko kami berlantai 3. lantai 1 adalah lantai di mana hampir setengah ke belakang dipenuhi barang jualan kami. dulunya kami punya ruang tengah, tempat di mana kami bisa menerima tamu, belajar bersama atau merayakan ulang tahun di tengah-tengah tumpukan tripleks and kaleng-kaleng cat. kedengaran lucu, tapi setiap perayaan yang kami rayakan di ruang sempit ini berakhir spektakuler.
lantai 3 adalah ruang jemur merangkap gudang merangkap sauna. pintu tengah menuju ke ruang jemuran yang notabene adalah lantai 5* 3 membagi lantai ini menjadi dua bagian. bagian gudang yang sedari dulu dipenuhi sambungan pipa PVC ini, tinggi ruangnya kurang 10 senti mencapai 1 meter setengah dan tidak pernah menjadi tempat favorit bagi para pekerja, apalagi kalau mereka sudah cukup berkeringat disengat matahari jam 12 siang. ruang sauna pribadi ini cuma dikunjungi kalau mereka benar-benar harus mengambil sesuatu ato bersembunyi dari daftar kerja yang dibagikan di lt 1. pilihan ke 2, tentu saja, adalah kasus yang lebih sering terjadi.
nah lantai 2 adalah lantai di mana kami tinggal. kamar papa mama di bagian ujung belakang dengan jendela besar yang membuka -seandainya dia lebih sering dibuka- ke bukit belakang. di sebelahnya ada ruang persegi 4*4 yang mestinya adalah kamar tamu tapi akhirnya disulap menjadi ruang doa keluarga. lepas dari tangga, ada 3 kamar lagi yang berpetak-petak sampai ke jendela depan. kamarku yang terjepit di tengah, harus kuakui bukan kamar favoritku. letaknya yang terjepit membuat aku seperti merasa selalu kehilangan nafas, merasa harus keluar dari rumah setiap saat. di kemudian hari aku menyadari, perasaan itu datangnya bukan dari hempitan kamarku, tapi dari gelora jiwa mudaku.. tapi di rumah inilah pertama kalinya aku belajar tentang kesederhanaan...
lepas berumur 15 tahun aku dikirim menuntut ilmu di negri Jawi. kata papaku, supaya aku bisa melihat dunia, mengejar prestasi. versi mamaku sih, supaya aku hidupnya bisa jauh dari jangkauan pemuda gondrong berlesung pipi. aku, tentu saja, lebih percaya yang versi mamaku.
anyway, di negri Jawi orangtuaku berinvestasi kecil-kecilan. mereka membeli dan merenovasi sebuah rumah di komplek kecil di pinggiran kota beukuran 10*10, bahkan mungkin lebih ramping. di situ aku dan saudara-saudaraku menghabiskan masa remaja kami. mulai dari bangun pagi jam 5 supaya bisa berangkat ke sekolah jam 5.30 untuk menghindari macet -ta, of course, ini ditujukan untukmu-, belajar naik angkutan umum, bersosialisasi sama tetangga kompleks sampai menghadiri rapat RT.
di rumah ini kami belajar memiliki dan bertanggungjawab, belajar mengerti betapa pentingnya arti keluarga.
genap 22 tahun, aku kembali bermukim di rumah orangtuaku. kali ini bukan lagi di ruko 3 lantai nan terhempit di deretan toko-toko kuno di kota tua. 2 tahun sebelum aku kembali, papaku telah berhasil membangun satu rumah tinggal yang sedianya dia tempati di hari tuanya. jerih payahnya selama bertahun-tahun bekerja dan berhemat dengan tinggal di lt 2 ruko kami membuat dia begitu bangga dengan rumah baru ini. rumah di tengah kota di pinggir jalan raya, dengan taman yang luas di halaman depan dan belakang di mana mama dan papaku bisa menyalurkan hobinya berkebun anggrek. rumah idaman, begitu judulnya. dan memang begitulah adanya. bukan hanya karena rumah ini adalah idealisme yang selama ini diimpikan oleh kedua orangtuaku tapi lebih kepada jalan yang harus dirintis untuk mencapai ke titik ini.
di sini aku belajar, hidup adalah perjuangan.
setahun setelah berpetualang ke negri antah berantah, aku kembali ke negri Jawi. Kali ini orangtuaku telah memetik hasil investasinya. Rumah di tepi kota itu telah dijual ke saudagar dari Barat dan isi rumah kami telah diboyong ke satu rumah di tengah kota. Rumah berwarna hijau segar dengan pintu kayu bercat putih. Indah. tapi di suatu titik aku tau, ini hanya persinggahan.
8 bulan yang lalu, aku akhirnya boyongan ke rumahku sendiri. well, frankly speaking, secara kita masih ngredit, let me say, rumah milik bank X ;) rumah berlantai 2 setengah ukuran 5*16.
yup sodara, aku kembali hidup di sebuah ruko.
terletak di tengah kota, 5 menit dari jalur pintas, 7 menit dari supermarket dan pasar tradisional, 10 menit dari garis pantai.
seidealnya letak rumah ini, sejujurnya ini juga bukan pilihan utamaku. meskipun aku besar dan belajar banyak dari ruko papaku, aku tidak pernah berpikir untuk terjebak kembali di dalamnya. di kepalaku, sebenarnya-hingga saat ini- melayang-layang satu rumah sederhana dengan halaman luas yang cukup lapang sebagai taman bermain anakku, suatu hari nanti.
rumah berlantai 1 setengah dengan kamar 3 dan ruang tengah yang nyaman untuk menikmati waktu senggangku. tidak perlu aneh-aneh dengan hamparan sawah atau kolam renang, yang penting tenang dan sejuk.
toh aku terlanjur terperangkap di ruko ini. ruko pilihan si Naga pasangan hidupku yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada ukiran jawa nan rumit di pintu balkoni. dan karenanya aku juga mulai belajar mencintai tempat ini; merangkai warna dan gambar, menghitung luas ruang dan voltase listrik, melihatnya dengan kacamata tak berbingkai, semuanya indah jika kamu melihatnya dengan hati yang terbuka.
di sini aku belajar mengerti apa artinya bersyukur.
31.5.10
30.5.10
sunday bloody sunday
working on Sunday, bukan hal baru bagiku. setidaknya untuk 5 tahun terakhir.
3 tahun pertama kuhabiskan Minggu untuk bekerja 8am-2pm, di toko membantu papa. Secara tokonya toko bangunan, dan kebanyakan jualannya kelas berat, most of the time Minggu adalah hari buat terima order buat diantar Seninnya. Tapi jangan salah, kadang kadang - meski ga sering - pembelinya juga datang buat ngorder dan ga mau nunggu Senin buat nerima barang. Urgently needed, katanya. kalo udah gitu ya, mau ga mau diriku jadi supir dadakan.. dari yang nganterin 10 lembar tripleks, 50 lembar seng sampe 5 zak semen.. ta´jabanin! toh ya nggak susah juga, ada yang muatin ada yang mbongkarin, yang perlu kulakukan cuman mengantar dengan selamat..
orang-orang yang suka ngeliatin biasanya pada mencibir sih, cakep cakep anak majikan kok mau-maunya nyetirin mobil angkutan.. tapi seperti angin, aku ya berlalu aja.. suka-suka dong, orang yang nyetir aku, yang dapet duit jualan juga papaku, kenapa nggak.. ^^
eniwey, kebiasaan working on Sunday ini ternyata nggak berhenti sampe di situ. pun ketika aku sudah berganti moda kerja dari angkutan menjadi portatil, aku tetap mengikuti teladan bekerja di hari Minggu, tentu saja ditemani Naga gendut yang slalu ada di sampingku.
meski lebih lambat dari hari kerja, setiap Minggu aku masih terduduk manis di depan portatil merahku, merangkai rute, memainkan kalkulatorku sampe angka nol-nya sudah tak sanggup tertampung lagi di layar rampingnya, dan kalo lagi niat, sering-seringnya aku juga menyempatkan diri beradu kepala sama si Naga; dia pikir aku dewa, bisa mengubah trip €3000 menjadi €1000. -salahkan saja Euro yang sedang kesal melompat.
seperti hari ini, aturan jam makan siang harusnya udah nyampe di tempat Nenny, Reza & Abbey di Ubud, aku dan Naga masih berkutat dengan layar masing-masing, terlena dengan rute perjalanan entah siapa yang tak mungkin bernasib di bawah €1000.
3 tahun pertama kuhabiskan Minggu untuk bekerja 8am-2pm, di toko membantu papa. Secara tokonya toko bangunan, dan kebanyakan jualannya kelas berat, most of the time Minggu adalah hari buat terima order buat diantar Seninnya. Tapi jangan salah, kadang kadang - meski ga sering - pembelinya juga datang buat ngorder dan ga mau nunggu Senin buat nerima barang. Urgently needed, katanya. kalo udah gitu ya, mau ga mau diriku jadi supir dadakan.. dari yang nganterin 10 lembar tripleks, 50 lembar seng sampe 5 zak semen.. ta´jabanin! toh ya nggak susah juga, ada yang muatin ada yang mbongkarin, yang perlu kulakukan cuman mengantar dengan selamat..
orang-orang yang suka ngeliatin biasanya pada mencibir sih, cakep cakep anak majikan kok mau-maunya nyetirin mobil angkutan.. tapi seperti angin, aku ya berlalu aja.. suka-suka dong, orang yang nyetir aku, yang dapet duit jualan juga papaku, kenapa nggak.. ^^
eniwey, kebiasaan working on Sunday ini ternyata nggak berhenti sampe di situ. pun ketika aku sudah berganti moda kerja dari angkutan menjadi portatil, aku tetap mengikuti teladan bekerja di hari Minggu, tentu saja ditemani Naga gendut yang slalu ada di sampingku.
meski lebih lambat dari hari kerja, setiap Minggu aku masih terduduk manis di depan portatil merahku, merangkai rute, memainkan kalkulatorku sampe angka nol-nya sudah tak sanggup tertampung lagi di layar rampingnya, dan kalo lagi niat, sering-seringnya aku juga menyempatkan diri beradu kepala sama si Naga; dia pikir aku dewa, bisa mengubah trip €3000 menjadi €1000. -salahkan saja Euro yang sedang kesal melompat.
seperti hari ini, aturan jam makan siang harusnya udah nyampe di tempat Nenny, Reza & Abbey di Ubud, aku dan Naga masih berkutat dengan layar masing-masing, terlena dengan rute perjalanan entah siapa yang tak mungkin bernasib di bawah €1000.
29.5.10
evelyn charlex
juni 23 besok, Evy, begitu kami biasa memanggilnya, genap berusia 6 tahun. Untuk anak seumur dia, sebagai tante -betul betul kumerasa tua dengan sebutan ini- aku tidak pernah berhenti terkejut dengan segala kata yang dia ucap. Pastinya bukan saya saja. Setahun yang lalu, ketika mama berinisiatif merayakan ulang tahun dia dan mengundang 200 anak -literally 200!! - memenuhi seluruh ruang tengah di rumah Kendari, aku mau tak mau harus memanggil pasukan khusus untuk menghias sudut sudut rumah yang tidak rendah. Andre, Suprin and friends, pasukan khusus yang selalu siap membantu, datang membawa berlusin2 balon panjang, bulat dan warna-warni. -Speaking of which, aku masih ngutang Andre 3 bungkug balon!.. hehehe-Anyway, Evy was there, around us. Waktu kita lagi sibuk-sibuknya nyiapin hiasan ini itu untuk kondangannya dia, dia juga sibuk ke sana kemari mencari cela apa yang bisa dia lakukan untuk membantu menghias. Tak bosan bosannya kusuruh dia tidur siang dan tak hilang akal dijawabnya semua yang kuucap. Suprin dan Andre geleng geleng kepala, ini sungguh tak wajar. Semua yang diucapnya seakan bukan keluar dari anak umur 5 tahun. You actually can have a real conversation with her! Even worse -or better?- she actually knows how to argue with you! hahahaha...
Tapi satu hal yang paling penting yang harusnya tak pernah kulupa, seperti anak kecil di seluruh dunia, dia tidak pernah lupa. Dia selalu ingat setiap kata yang orang lain sebut, yang orang lain janjikan. Minggu kemarin, waktu kita lagi ngobrol di telfon, iseng-iseng aku tanya, ¨Ntar ulang tahun mau kado apa?¨ Jawabnya dengan yakin.. ¨Lho katanya mau bawa Evy liburan ke Spanyol?¨ Hohohoo... My dear Eevelyn, baru mau enam tahun aja mimpinya udah ke Spanyol... ^^
28.5.10
selingkuhan lama tampang baru
terakhir kali bertemu teman lama saya, Nyoman, saya menggandeng Norbe, si jangkung nan ramping yang mencuri hatiku di persinggahan tanpa akhirnya di kota pelabuhan itu.
Pertanyaannya cuma satu, sudah insyaf Lys?
Gelak tawa mengiringi pertanyaannya. Bukan kejutan memang kalo kami berdua menganggap pertanyaan itu lucu. Kami berdua cukup lama bersaing memperebutkan piala 2 huruf ajaib.
Dan entah siapa yang akhirnya keluar sebagai sang jawara. Yang jelas di akhir tahun ke sekian persaingan kami, saya dan dia sama-sama cuma menggandeng satu orang yang sama dalam sekian tahun tanpa membagi lirikan lagi ke belahan paha yang lain.
Sekian tahun, dan Norbeku yang mulai menggendut oleh waktu tetap di sini. tapi siapa sangka hasrat yang sekian lama tinggal sekarang bergolak lagi. aku capek hanya dengan dia. dua puluh empat jam kali tiga ratus enam puluh lima hari. kadang-kadang bisa double kalo kita lagi travel bareng. dan somehow, aku mulai capek. hidup ini sedikit terlalu berharga hanya untuk dihabiskan atas nama Norbe.. kau juga tau, dia bukan dewa.. hahaha..
dan karenanya dalam capekku menghitung angka, hari ini aku mulai menulis -lagi.
sudah saatnya aku menulis lagi, berbagi kisah dengan selingkuhan lama dengan tampang barunya..
Pertanyaannya cuma satu, sudah insyaf Lys?
Gelak tawa mengiringi pertanyaannya. Bukan kejutan memang kalo kami berdua menganggap pertanyaan itu lucu. Kami berdua cukup lama bersaing memperebutkan piala 2 huruf ajaib.
Dan entah siapa yang akhirnya keluar sebagai sang jawara. Yang jelas di akhir tahun ke sekian persaingan kami, saya dan dia sama-sama cuma menggandeng satu orang yang sama dalam sekian tahun tanpa membagi lirikan lagi ke belahan paha yang lain.
Sekian tahun, dan Norbeku yang mulai menggendut oleh waktu tetap di sini. tapi siapa sangka hasrat yang sekian lama tinggal sekarang bergolak lagi. aku capek hanya dengan dia. dua puluh empat jam kali tiga ratus enam puluh lima hari. kadang-kadang bisa double kalo kita lagi travel bareng. dan somehow, aku mulai capek. hidup ini sedikit terlalu berharga hanya untuk dihabiskan atas nama Norbe.. kau juga tau, dia bukan dewa.. hahaha..
dan karenanya dalam capekku menghitung angka, hari ini aku mulai menulis -lagi.
sudah saatnya aku menulis lagi, berbagi kisah dengan selingkuhan lama dengan tampang barunya..
27.5.10
20
enywey, memasuki usia berapapun - so far- tidak pernah menjadi momok buatku. kurang beberapa tahun lagi, ketika aku akan benar-benar berkepala 3-, aku yakin I´m still the same person. as long I live my life fully, nothing else matters..
adekku tercinta nan cakep ini, hari ini berusia genap 20 tahun. somehow dia sedikit heboh memasuki kepala 2- ini.. mungkin karena ketika kamu berkepala 2- tidak seharusnya kamu melakukan hal-hal bodoh yang bisa dengan cueknya kau lakukan ketika kau masih remaja..
tapi kurasa dikasusnya, dia melihat usia ini sebagai awal yang baru dan tanggung jawab yang baru, bukan sebaliknya. what a proud sister I am..
feliz cumple, mi linda.. ^^
Subscribe to:
Comments (Atom)
