6.11.10

beauty is pain.. [haruskah?]

pagi ini saya saya iseng-iseng baca blog teman dari seorang teman. Big tittle-nya jelas dan ngena, beauty is pain, dilihat dari kacamata seorang pengantin wanita.

begini pointnya:
1. demi tampil cantik di foto pre wed, sang pengantin rela berpanas2 ria di pinggir pantai atau berdingin2 ria di bawah air terjun, dst..

Versiku: yakin deritanya cuman milik si calon pengantin wanita?
toh ketika si pengantin wanita berpanas-panas ria di pinggir pantai atau menggigil di bawah air terjun, sang pengantin lakinya juga pasti ngerasain hal yang sama.. apalagi fotografernya, pasti lebih menderita... betul??

foto prewed-nya Melysa & Norbe di Bromo, so fun!!

2. demi tampil cantik di hari nan sakral, sang pengantin harus rela bangun pagi buta jam 3 buat make over di salon. bahkan kalo memang nikahnya di hari BAIK dan salon pilihannya punya nama (baca: terkenal), maka semakin besar kemungkinannya di pengantin wanita ini harus rela ngantri di salon, kalo perlu berkemah di salon itu sambil nunggu giliran diricoki bedak 5 cm dan blush on warna pink. benarkah demikian?

Versiku: life is a choice-lah!
contoh paling gampang ya pengantin wanita bernama Melysa yang nikah di tengah high season tahun yang lalu.
karena upacara gerejanya milih yang jam 1 siang (karena milihnya hari Minggu, si sekretaris gereja ngasih pilihannya cuman 2, jam 1 siang atau silahkan pilih hari lain..), maka si pengantin wanita bisa tidur selayaknya manusia normal. jam 7 pagi dia bangun, sarapan, mandi, dan sambil menunggu tukang make up-nya datang ke rumah, dia bermain dengan Miller & Trixie, dua ekor peliharaannya yang sayangnya tak bisa ikut upacara di gereja..


















my wedding, with all my family
no pain but really beautifull..

3. demi bisa tampil serasi dengan sang pengantin, si pengantin wanita yang tingginya kadang-kadang ´semampai´ alias semeter tak sampai, harus pake hak tinggi min 15 cm supaya kalo foto tampak seimbang, ga njomplang, kalo kata orang Jawa..
Dan karena prosesi nikah itu bukan cuman sekedar upacara pemberkatan di gereja, atau upacara minum teh a la orang China, atau acara resepsi nan panjang tapi rangkaian dari seluruhnya, kadang-kadang sang pengantin harus menggunakan si 15 cm itu dari mulai membuka mata hingga ambruk di ranjang pengantin.. *sigh*

Versiku: be smart, please. kalo ada bagian dari aksesoris pengantin yang paling paling tersembunyi, ya si sepatu itu. Apa pentingnya pake hills 15 cm bertaburkan swarovski dengan ujung yang lancip kalo akhirnya si sepatu akan tersembunyi selama lebih dari 12 jam di bali gaun pengantin yang sudah menyilaukan mata?

so, is beauty always coz pain?
kadang-kadang, tapi tidak harus.

beauty is pain kalo harus ke salon buat facial supaya kulit wajah nggak penuh dengan lemak yang bersembunyi..
beauty is pain kalo harus harus sering-sering olahraga angkat besi buat njaga garis tubuh (in which I have not done for the last one year, I mean olahraganya, bukan angkat besinya)... beauty is pain kalo udah capek-capek make up, ehhhh... ternyata ga ada yang bilang cantik... ;)

-which have never happened to me, Thank GOD!

..ibu sedang lara..

saya nggak tau kapan pertama kali Merapi meletus, saya nggak tau kapan Tsunami di Mentawai pastinya terjadi, saya nggak tau sudah berapa banyak korban jatuh di Wasior.

yang saya tau saya ikut memaki SBY ketika dia telat seminggu sebelum akhirnya mengunjungi Wasior untuk melihat secara langsung bencana yang melanda Papua, saya ikut menitikkan air mata ketika melihat foto-foto korban Merapi lewat siaran tivi yang akhirnya saya tonton di jam makan siang, dan saya ikut berdoa ketika kekasih hati teman saya, seorang surfer yang sedang mencoba ombak Mentawai, tak kunjung memberi kabar tentang ada atau tiadanya dia setelah Mentawai disapu Tsunami.

ibu pertiwi sedang lara. tapi saya tak mau ikut memutar tembang penuh doa Ebiet G Ade. toh saya bisa mengucap doa saya sendiri.

ibu pertiwi sedang lara. tapi mungkin dia memang hanya harus menangis sekali ini saja, dan setelah semuanya selesai, dia akan membelai kita lagi dengan tenang dan senyum manis.

The Gos of love my shepherd is,
and I am his, what can I want or need?
(psalm 23)
photos courtesy of vivanews.com

29.10.10

walk on U2



And love is not the easy thing
The only baggage that you can bring...
And love is not the easy thing...
The only baggage you can bring
Is all that you can't leave behind

And if the darkness is to keep us apart
And if the daylight feels like it's a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong

Walk on, walk on
What you got they can't steal it
No they can't even feel it
Walk on, walk on...
Stay safe tonight

You're packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed to be seen
You could have flown away
A singing bird in an open cage
Who will only fly, only fly for freedom

Walk on, walk on
What you've got they can't deny it
Can't sell it, or buy it
Walk on, walk on
Stay safe tonight

And I know it aches
And your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

Home... hard to know what it is if you've never had one
Home... I can't say where it is but I know I'm going home
That's where the heart is

and I know it aches
How your heart it breaks
And you can only take so much
Walk on, walk on

Leave it behind
You got to leave it behind
All that you fashion
All that you make
All that you build
All that you break
All that you measure
All that you feel
All this you can leave behind
All that you reason
All that you sense
All that you speak
All you dress-up
All that you scheme...

27.9.10

crazy life in Bali

NOPE! Saya tidak sedang membicarakan kegilaan saya hidup di Bali ataupun keinginan saya untuk ikut-ikutan crazy. Saya sebenarnya sedang ikut bertanya-tanya, apakah memang hidup di Bali ini harus ikutan crazy?

Semua ini berawal ketika saya membaca postingan satu teman yang sudah agak lama tidak bersua. Dia mengeluhkan -atau mungkin mengelukan- cara hidupnya yang tak jelas di Bali. Pindah ke sini tak lama setelah dia menikahi kekasih hatinya dari negri antah berantah, dia memulai satu hidup baru: hidup dengan berpesta. Seluruh malamnya dihabiskan dari satu dungche ke dungche lain, dari satu teman ke teman lain, if you can call them friends.
Sampai dia menemukan tambatan hati lain dan menendang -atau ditendang, entahlan- oleh kekasih hatinya yang telah dipilihnya dengan hati, setahun yang lalu.

Anyway, my main concern about her is only that bagaimana dia melihat semuanya itu adalah akibat pengaruh dari tempat ini, dan bagaimana dia merasa semua ini terjadi karena dia ADA di sini, dan bukan karena dia yang memilih.


***


Saya barusan pindahan ke Bali bulan Agustus 2010. Kalo dihitung secara merata berarti sudah 13 bulan saya inggal di Bali. Dipotong masa liburan saya alias jadwal tak jelas yang mengharuskan saya terbang ke sana kemari at least sekali tiap bulan, yah bisa dibilang saya di sini sekitar 9 bulan lah totalnya. Dalam 9 bulan ini, 3/4nya saya habiskan dalam sebuah kotak, sementara sisanya kalo ga di jalan Oberoi ya di jalan Danau Tamblingan, alias memamahbiak di resto-resto favorit si tiang listrik.

Si Kusno, sodara dari jauh saya yang suatu hari main ke sini bertanya, kenapa saya begitu terbelakangnya; tinggal di Pulau idaman sejuta umat, tapi hidup saya 75 persen saya habiskan dalam sebuah kotak. Dan semakin terheran-heran ketika saya cuma menghabiskan malam minggu saya nan tenang di sofa depan tivi, menonton vcd Friends yang mungkin sudah ketonton sepuluhribu kali.

Pun ketika Utik datang bertandang, kita cuma melewati deretan bangunan dengan lampu warna warni dan musik dungche-dungche yang pekak. Entah karena dia juga sudah mulai bosan atau simply karena cara kita melihat hidup sudah mulai bergeser ke arah lain.
Yang jelas we´re not becoming crazy.


Not then, not now. Not ever.

6.6.10

feliz cumple


a mi querido, Norberto Rodriguez Sanchez.
te quiero mucho!

4.6.10

recently discovered: work challenge

siapa bilang jadi Boss itu mudah? yang bilang gini pasti hanya orang-orang yang ga pernah jadi boss.. hehehe..
memasuki badai e-mail summer tahun ini, Norbe dan aku memutuskan untuk nambah pasukan. Kalo biasanya aku, Norbe dan satu anak kerja yang mbantuin ini-itu udah cukup, Mei kemarin kita udah kelimpungan. Makanya kita mulai pasang iklan di berbagai media: mulai iklan baris, iklan di internet, iklan di jidat para guide, sampe teman sendiri hampir direkrut. Toh akhirnya ketika kita menemukan 2 orang yang dianggap bisa membantu, yang satunya mundur teratur karena sakit yang dideritanya; 10 hari kerja, 4 hari ga masuk. Alasan: sakit A.

Jadilah kita bertahan dengan 3.5 pasukan. Eh, tak disangka tak dinyana, pasukan baru yang tertinggal tiba-tiba lenyap setelah jam makan siang dan gajian. Entah raib ditelan siapa. 2 hari ga ada kabar, hari ini tiba-tiba nelfon ke hape norbe, ¨maaf pak, saya ga masuk soalnya saya bosen di sana, ga ada siapa-siapa, ga banyak kerjaan.¨ Ya owloh, betul betul betul.. yang ngomong ini either ga mengerti apa yang dikerjain ato emang ga niat kerja..

Yang miris sebenernya adalah si setengah prajurit. Dia kusebut setengah prajurit soalnya si dia kerjaannya atas bawah. Setelah selesai bekerja di lt.2, dia sebisanya membantu di lt.1. Dilema sebenernya, karena sodara temen sendiri, kita ga rela kasih titel di kepalanya. Mo dikasih tanggungjawab gede sama urusan bawah juga repot, ntar kenapa-kenapa, yang tanggungjawab siapa?

Anyway, si setengah prajurit jatuh sakit 1 hari setelah gajian. Seperti orang yang tak punya pulsa, 3 hari tidak masuk, 3 hari pula tak ada kabarnya. toh aku sudah membatin, si setengah prajurit ini mungkin memang tak mau lagi berkedudukan di gurita.

Berkunjung ke tempat dia, niatnya cuman mau menjemput kunci rumah yang memang biasa dibawa dia, ternyata eh ternyata, prajuritnya bukan lagi terbaring sakit 3 hari, malah naek motor ke sono ke sini. Ilfil sudah. Biar dibela pake kepalapun, aku udah kadung ilang rasa.
Ya sudahlah.

Jadi beginilah, satu weekend di satu kotak 5*16, dengan meja panjang dan 5 komputer, dan 2 orang stress yang tak habis pikir, siapa bilang jadi boss itu mudah?

3.6.10

Bali, satu tanda tangan = uang kertas bergambar bung karno

tinggal di Bali, di zona manapun di Bali, tidak pernah menjadi pilihanku. tidak dulu tidak sekarang, walopun, as you all might know, 5 bulan terakhir ini aku kalo diminta ngeluarin id, yang keluar ya KTP Bali.

dulu-dulu sekali, one of the main reason kenapa Bali tidak masuk dalam daftar hijoku yah karena Bali ya Bali aja. Kalo orang-orang sampe termehek-mehek cuman hanya karena mendengar kata Bali, aku ya gitu-gitu aja. Bali cuma satu pulau di bawah Sulawesi, perlu 1 kali ganti pesawat kalo dari kotaku, atau mungkin 4 hari perjalanan kapal buat yang low budget. tapi aku juga nggak pernah benar-benar mengerti kenapa orang-orang bisa sampe segitunya.

katanya pantainya keren.. hohoho... yang bilang gini pasti irit modal, ga pernah menjelajahi belahan lain Indonesia. untuk ukuran di bawah 15 tahun aja, waktu itu aku sudah bisa menyadari, untuk ke pantai dan menikmati rayuan daun kelor sekaligus makan kelapa muda, aku hanya perlu berkendara 30 menit dari rumahku. di sepanjang garis luar kotaku, kau tinggal masuk di titik manapun untuk menemukan pantai cantik nan bersih dan sepi pengunjung. Pantai pribadi.

Anyway, bertahun-tahun telah lewat dan sekarangpun aku ini sedatar air kalo ngomongin Bali. Ubud dan beberapa daerah di Utara dan Tenggara nan sepi masih tetap nyaman untuk dikunungi, tapi pantainya yang tak pernah berubah -apalagi di musim libur kejepit ato liburan sekolah- bisa serasa cendol yang tersaji di mangkok hadiah vetsin.

Bedanya, kalo dulu aku ga ikutan termehek-mehek karena ga menemukan sesuatu yang terlalu spesial, sekarang aku tetap ga ikutan termehek-mehek karena aku udah mulai jengah. Apalagi karena aku sekarang tinggal di sini, semua yang indah - indah yang sempat aku dengar dan rasakan, udah terbanting sama korupnya urusan ini itu dari level kepala lingkungan sampe pak camat. Masa minta 1 tanda tangan sama dengan 100 ribu. Bayangkan kalo rektor di kampus-kampus juga dapet segitu setiap nandatangani sertifikat lulusan mahasiswa.. hoho...

tapi ya itulah, mungkin memang ini sudah bukan zamannya mengeluhkan tentang hal ini. kalo prinsip kerja udah bukan didasari pelayanan lagi, kita juga ga bisa bergerak. lak wong waktu dimintain 4 lembar duit merah untuk satu tanda tangan dan kujawab tidak punya segitunya, bapaknya malah ketawa sinis, ¨ya mbak ga usah bikin usaha kalo 4 lembar duit merah aja ga punya..¨hoho... pak.. pak.. betapa mendidiknya anda ini... *jengah.com*