3.6.10

Bali, satu tanda tangan = uang kertas bergambar bung karno

tinggal di Bali, di zona manapun di Bali, tidak pernah menjadi pilihanku. tidak dulu tidak sekarang, walopun, as you all might know, 5 bulan terakhir ini aku kalo diminta ngeluarin id, yang keluar ya KTP Bali.

dulu-dulu sekali, one of the main reason kenapa Bali tidak masuk dalam daftar hijoku yah karena Bali ya Bali aja. Kalo orang-orang sampe termehek-mehek cuman hanya karena mendengar kata Bali, aku ya gitu-gitu aja. Bali cuma satu pulau di bawah Sulawesi, perlu 1 kali ganti pesawat kalo dari kotaku, atau mungkin 4 hari perjalanan kapal buat yang low budget. tapi aku juga nggak pernah benar-benar mengerti kenapa orang-orang bisa sampe segitunya.

katanya pantainya keren.. hohoho... yang bilang gini pasti irit modal, ga pernah menjelajahi belahan lain Indonesia. untuk ukuran di bawah 15 tahun aja, waktu itu aku sudah bisa menyadari, untuk ke pantai dan menikmati rayuan daun kelor sekaligus makan kelapa muda, aku hanya perlu berkendara 30 menit dari rumahku. di sepanjang garis luar kotaku, kau tinggal masuk di titik manapun untuk menemukan pantai cantik nan bersih dan sepi pengunjung. Pantai pribadi.

Anyway, bertahun-tahun telah lewat dan sekarangpun aku ini sedatar air kalo ngomongin Bali. Ubud dan beberapa daerah di Utara dan Tenggara nan sepi masih tetap nyaman untuk dikunungi, tapi pantainya yang tak pernah berubah -apalagi di musim libur kejepit ato liburan sekolah- bisa serasa cendol yang tersaji di mangkok hadiah vetsin.

Bedanya, kalo dulu aku ga ikutan termehek-mehek karena ga menemukan sesuatu yang terlalu spesial, sekarang aku tetap ga ikutan termehek-mehek karena aku udah mulai jengah. Apalagi karena aku sekarang tinggal di sini, semua yang indah - indah yang sempat aku dengar dan rasakan, udah terbanting sama korupnya urusan ini itu dari level kepala lingkungan sampe pak camat. Masa minta 1 tanda tangan sama dengan 100 ribu. Bayangkan kalo rektor di kampus-kampus juga dapet segitu setiap nandatangani sertifikat lulusan mahasiswa.. hoho...

tapi ya itulah, mungkin memang ini sudah bukan zamannya mengeluhkan tentang hal ini. kalo prinsip kerja udah bukan didasari pelayanan lagi, kita juga ga bisa bergerak. lak wong waktu dimintain 4 lembar duit merah untuk satu tanda tangan dan kujawab tidak punya segitunya, bapaknya malah ketawa sinis, ¨ya mbak ga usah bikin usaha kalo 4 lembar duit merah aja ga punya..¨hoho... pak.. pak.. betapa mendidiknya anda ini... *jengah.com*

0 comments:

Post a Comment